Inilah Kisah TKW yang lolos dari kawasan ISIS di Aleppo dan Raqqah

Inilah Kisah TKW yang lolos dari kawasan ISIS di Aleppo dan Raqqah  – Saya bertemu dengan Sri Rahayu (48 tahun) di Desa Gontar, Alas Barat, Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat. Daerah ini merupakan salah satu pengirim buruh migran yang terbesar di Indonesia.

_92992825_srirahayu1

Dia kembali dari Suriah pada Maret 2016 setelah bekerja selama lima tahun di negara itu.

Awalnya dia bekerja di Aleppo selama 2,5 tahun, meski kontraknya telah habis, Sri bukannya dipulangkan tapi ‘dijual’ oleh agen untuk bekerja di Raqqah. Kemudian dia bekerja selama tiga tahun terakhir di Kota Raqqah, yang pernah diklaim sebagai ibukota oleh kelompok yang menamakan diri Negara Islam ISIS.

Meski telah beberapa bulan kembali ke desanya, Sri mengaku masih sering merasa kaget dengan bunyi suara yang keras.

“Saya khawatir itu merupakan suara bom,” ungkap dia.

Sri mengatakan ledakan bom dan suara tembakan sering terdengar beberapa bulan setelah ISIS menguasai Raqqah.

Rumah majikan Sri pernah terkena bom dalam sebuah serangan udara.

“Saya dengar itu pesawatnya, ketika itu saya sedang di dapur memasak, pancinya terbang ke mana-mana. Dagingnya juga. Saya (terhempas) ke tembok, terus di situ saya duduk. Api (berkobar) di rumah majikan, mau teriak nggak bisa, mau bergerak sudah tidak bisa. Kaget saya,” tuturya.

Setelah serangan bom itu, Sri dan majikannya tinggal di sebuah lubang perlindungan di bagian bawah rumah untuk menghindari serangan lanjutan.

Sri masih mengingat ISIS memberlakukan aturan yang ketat; perempuan harus memakai burqa, dan tidak diperbolehkan untuk bepergian sendirian. Mereka juga melarang merokok dan minuman keras.

“Tapi mereka juga melanggar. Katanya dilarang merokok dan minum, mereka sendiri minum, merokok -kan saya sering liat kalau ke pasar itu. Terus kalau waktu salat, teriak-teriak orang suruh salat, dirinya nggak salat,” kata Sri Rahayu.

Selama tinggal di Raqqah, Sri menyaksikan kekejaman ISIS, yang sering menaruh beberapa penggalan kepala manusia di tengah kota.

“Waktu itu hari Jumat , saya minta uang sama majikan, saya mau belanja sayur-sayuran. Sudah ramai di situ. Saya penasaran ada orang memfoto, syuting-syuting di situ,” kisah Sri.

“Saya jalan ke sana. Pas saya nengok, ada tujuh atau delapan kepala itu dijejer, darahnya masih mengucur. Sayuran belanjaan saya lempar, dan langsung saya lari ke rumah majikan, pulang.”

Pengalaman yang mengerikan itu, membuat Sri ingin kembali ke Indonesia. Berbekal telepon genggam pinjaman dari majikannya, dia mencari nomor kontak KBRI.
Meski berhasil mengontak KBRI,

Sri harus menunggu selama satu tahun. Itu, menurut KBRI, karena sulitnya ‘menyelamatkan’ orang dari Raqqah yang dikuasai ISIS.

Sri kemudian dijemput supir taksi yang disewa KBRI, untuk menuju Damaskaus melalui perjalanan selama enam hari dengan melewati pengunungan agar menghindari ISIS yang berjaga di perbatasan Raqqa.

Setelah kembali ke desanya, Sri mengaku tak ingin kembali bekerja lagi ke luar negeri dan memilih untuk bertani.

“Perasaan saya bebas. Alhamdulillah saya masih hidup, walaupun saya tidak bawa apa-apa, saya bisa ketemu lagi dengan keluarga: sama ibu, suami, anak. Alhamdulillah lega. Kalau rejeki di mana-mana dapat,” jelas Sri.